Selasa, 27 September 2011

DENGAN MANGROVE INDAH PANTAIKU LESTARI ALAMKU


DENGAN MANGROVE
INDAH PANTAIKU LESTARI ALAMKU
Oleh : Endarto,S.Pd


Pendahuluan
Dikala kita naik perahu menyusuri pantai, akan tampak daratan yang gugusan pantainya beraneka ragam; ada yang berupa hutan, bebatuan, pohon-pohon kelapa, , hamparan pasir, rumah penduduk,  tanaman liar, tanah kosong, atau jenis tanaman yang paling banyak kita temukan di kawasan pantai yaitu mangrove.

Tanaman ini pada umumnya sekilas agak mirip dengan pohon beringin, sehingga baik tumbuh terpisah maupun bergerombol dengan lainnya, dengan sebagian daunnya yang menjuntai ke air, sangatlah elok untuk dipandang mata, sehingga  menambah kecantikan pemandangan di pantai. Dengan ketinggian rata-rata tidak lebih dari 10 meter, serta akar-akarnya yang sangat banyak dan panjang-panjang menghunjam ke bumi, tanaman ini nampak kokoh dan tak tergoyahkan oleh hempasan ombak  sehingga sangatlah cocok untuk ditanam di sepanjang pantai untuk mencegah terjadinya abrasi.

Jenis-jenis Mangrove
Beberapa jenis mangrove yang umum dijumpai di Provinsi Banten adalah: bakau (Rhizophora Sp), api-api (Avicennia Marina dan Avicennia Iba), pedada (Sonneretia Caseolaris), tanjung (Bruguiera Parviflora), nyirih (Xylocarpus Parviflora), tengar (Ceriops Sp), dan buta-buta (Exoecaria Agallochea).

Manfaat Mangrove
Tanaman ini memiliki banyak manfaat ataupun fungsi, beberapa diantaranya adalah :
  1. Sebagai pencegah terjadinya abrasi
  2. Sebagai tempat memijah bagi beberapa jenis ikan
  3. Sebagai tempat pembesaran bagi beberapa jenis ikan
  4. Sebagai pengendali terjadinya intrusi (peresapan air laut ke daratan)
  5. Dapat memberikan perlindungan yang efektif pada zona bahaya rawan gempa tsunami di suatu kawasan pesisir.
Sebagai contoh teraktuil dari fungsi ke-lima diatas adalah pada kejadian bencana tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu, di temukan bukti-bukti bahwa di daerah yang vegetasi pantainya terjaga (mangrove) tingkat kehancuran rumah/bangunannya lebih rendah di banding daerah yang tanaman mangrovenya sudah rusak. Ini merupakan bukti nyata bahwa vegetasi pantai mampu meredam kekuatan gelombang tsunami.




Ekosistem Mangrove di Banten
Khususnya di Provinsi Banten yang memiliki panjang garis pantai 816,99 km (termasuk pulau-pulau kecil), keberadaan hutan mangrovenya menyebar tidak merata di seluruh pantai dan pesisir, paling banyak dijumpai di pantai utara yang mempunyai topografi dangkal dan terlindung. Lokasi keberadaan mangrove dan luasnya di Provinsi Banten  secara lengkap dapat di lihat pada table berikut :
KAB./KOTA

LUAS
(ha)
LOKASI
Tangerang
1961
Tanjung Pasir, Tanjung Burung, Tanjung Kait, Pantai Mauk dan Kronjo
Serang
300
Pantai Tirtayasa, Lontar, Tanjung Pontang, Teluk Banten bag. timur dan Pulau Panjang bag. selatan
Cilegon
3
Merak dan Pulau Sangiang
Pandeglang
1364,67
Pantai Panimbang, Tanjung Lesung, Sumur, Ujung Kulon bag. utara, Pulau Panaitan dan Pulau Peucang
Lebak
1,26
Malingping, Sawarna dan Bayah

Mangrove dan Abrasi
Seperti yang sudah disampaikan di atas bahwa fungsi utama dari mangrove  adalah untuk mencegah terjadinya abrasi. Abrasi adalah proses marin dominan berupa gelombang laut yang menghempas pantai yang mengakibatkan pengikisan pantai sehingga daratan makin berkurang dan air laut makin masuk ke daratan. Kerugian abrasi ini di beberapa tempat telah merusak dan menghilangkan fasilitas-fasilitas seperti pemukiman, tambak, pariwisata, dan lahan pertanian. Apabila hal ini di biarkan maka akan makin  banyak daratan yang hilang dan sudah pasti makin banyak kerugian yang ditimbulkannya.

Di Banten, abrasi terjadi di beberapa tempat seperti di Pantai Tanjung Pasir dan Tanjung Kait di Kab.Tangerang, Desa Lontar dan Tirtayasa serta Pasauran di Kab.Serang, Desa Mekarsari Pulo Merak dan Merak Beach Hotel di Kota Cilegon, Pantai Labuan dan Teluk Lada di Kab. Pandeglang, serta Pantai Suka Hujan dan Cihara di Kab. Lebak. Khususnya abrasi di Pasauran bahkan telah mencapai bahu jalan raya, sementara abrasi di desa Lontar prosesnya dipercepat dengan adanya kegiatan penambangan pasir laut yang berdekatan dengan pantai.
Sudah pasti di lokasi-lokasi ini sudah tidak ada mangrove, kalaupun ada jumlahnya sangat sedikit sehingga sangatlah tidak memadai untuk mencegah perluasan  abrasi. Sangat dimungkinkan pula bahwa di situ  telah terjadi pembabatan mangrove secara tak terkendali untuk keperluan tambak, reklamasi untuk pembangunan industri dan pariwisata termasuk hotel-hotel seperti di Bojonegara dan Kawasan Anyer, atau sekedar untuk kayu bakar dan bahan bangunan. (Sumber Data : Lap. Akhir Penyusunan Rencana Induk (Grand Design) Pengelolaan Lingkungan Hidup Pesisir dan Laut Propinsi Banten, Buku 2 : Rencana Strategis Pengelolaan Lingkungan Pesisir dan Laut, Oleh BAPEDAL Propinsi Banten dan PKSPL-IPB, 2004)
Langkah-langkah Pengembangan Mangrove
Dengan kondisi dan eksistensi hutan mangrove di Banten yang semakin berkurang dari tahun ke tahun serta keprihatinan akan terjadinya abrasi yang makin meluas di beberapa tempat di atas, perlu diambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi hal ini, diantaranya dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut :
1. Survey Lokasi dari Titik Nol Kilometer di tiap Kabupaten
      Survei ini  dilakukan di semua Kabupaten dan harus dimulai dari titik nol kilometer per Kabupaten, hal ini penting agar diketahui  secara keseluruhan keadaan sepanjang wilayah pantai yang kita miliki. Survey ini dapat dilakukan melalui laut atau darat tergantung kondisi yang ada dan kemudahan dalam mencapai lokasi. Dengan survey ini akan didapatkan data yang riil tentang kondisi pantai kita terutama tentang ekosistem mangrove yang ada, di mana daerah yang kritis dan di mana daerah yang mangrovenya masih/sudah bagus.
2. Prioritas Penanaman di Lokasi paling Kritis
      Dari hasil survey di atas kita buat peringkat kondisi pantai per Kabupaten . Dimulai dari lokasi paling kritis, agak kritis, sedang, sampai pantai yang kondisi mangrovenya sudah bagus. Penanaman mangrove paling awal harus dilakukan di daerah paling kritis yang memerlukan penanganan segera untuk mencegah atau mengatasi terjadinya perluasan abrasi  dan harus dilakukan secara bersamaan di semua Kabupaten demi keadilan dan pemerataan pembangunan di Provinsi Banten, selanjutnya baru lokasi-lokasi peringkat di bawahnya hingga merata di sepanjang pantai.
3. Kerjasama dengan Sekolah dan Pecinta Alam
      Selama ini penanaman mangrove kita tempuh melalui kerjasama dengan Pihak Ketiga. Kelemahan dari cara ini adalah sering terjadinya kegagalan penanaman mangrove dengan banyaknya tanaman yang mati karena biasanya kontrak hanya sampai pada selesainya penanaman, setelah itu ditinggal begitu saja padahal tanaman baru harus selalu dikontrol dan butuh pemeliharaan yang serius sampai bisa tumbuh sendiri dengan baik. Mungkin kita bisa menempuh cara baru misalnya kerjasama dengan sekolah di sekitar lokasi. Hal ini kita lakukan diantaranya sambil  mendidik semangat cinta alam pada anak-anak sekolah, disamping itu alasan lainnya adalah karena lokasinya dekat maka mereka bisa secara rutin memantau perkembangan mangrove yang mereka tanam sebelumnya. Kompensasinya misalnya dengan memberikan bantuan buku-buku perpustakaan, beasiswa terbatas, bantuan fasilitas MCK, pembuatan mushola atau lainnya. Biaya tambahannya adalah honor kepala sekolah dan guru-guru sebagai koordinatornya serta sarjana pendamping yang   paham tentang penanaman mangrove. Ini dengan asumsi bahwa biayanya tidak lebih besar dibanding kerjasama dengan Pihak Ketiga. Hal yang sama bisa kita lakukan dengan para Aktivis Pecinta Alam setempat dengan kompensasi disesuaikan



4. Pemantauan dan Pengawasan Rutin
      Ketika proses ini berjalan maka pemantauan harus terus dilakukan secara rutin sejak penentuan lokasi, pengadaan bibit, penanaman sampai pemeliharaan agar diketahui perkembangan tanaman serta diambil langkah segera, misalnya bila ada tanaman yang mati agar segera di lakukan penggantian. Pengawasan ini bisa mulai dikurangi frekuensinya bila tanaman sudah  bisa tumbuh dengan baik.
5. Lomba Pelestarian Pantai Tingkat Provinsi Banten
      Bersamaan dengan itu akan lebih baik apabila setiap tahun dilakukan lomba Pelestarian Pantai tingkat Provinsi  dengan Koordinator Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten. Lomba ini diikuti oleh semua Kecamatan yang memiliki wilayah pantai di Provinsi Banten. Kepada pemenangnya diberikan hadiah atau penghargaan, misalnya namakanlah Mangrove Award atau lainnya. Hadiah diserahkan langsung oleh Gubernur dan yang menerimanya adalah para Camat agar mereka bangga dan terpacu semangatnya untuk menyelamatkan pantai di wilayah mereka.

Penutup
Demikianlah sekelumit ide tentang penyelamatan pantai di Provinsi Banten, khususnya mengenai usaha penggiatan penanaman mangrove yang diantara fungsinya adalah untuk mencegah abrasi. Tentu saja ini bukan ide yang terbaik akan tetapi mungkin bisa jadi bahan pertimbangan dalam rangka menyelamatkan pantai dan pelestarian lingkungan pada umumnya.

Bila hal ini bisa terealisasi dalam satu dua tahun kedepan, tidak mustahil tujuh sampai
sepuluh tahun mendatang bila kita kembali menyusuri pantai sepanjang wilayah Banten dengan Kapal Inspeksi kita, pandangan kita akan terasa sejuk, bukan karena sejuknya AC di kapal tetapi karena semua pantai kita sudah menghijau dengan mangrove. Itupun dengan catatan.........bila Kapal Inspeksi kita masih ada. (Endarto,S.Pd/ Bina Program-2004)




1 Komentar:

Pada 4 Juli 2014 21.42 , Blogger Nano Sumarna mengatakan...

salam kenal mas, mau tanya tentang mangrove/ jenis-jenis mangrove yang ada di banten beserta luas htannya di provinsi banten seperti yang di tulisa mas di atas ada di publikasikandqalam bentuk jurnal gak? atau apalah selain blog,butuh info ini buat sumber/referensi penelitian saya terimakasih.

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda